Cerita horor Jepang (kisah nyata)

ini sebenernya cerita pengalaman org yg gue denger di acara tv jepang

Ini adalah cerita pengalamanku sekitar tahun 2013. Aku (f) punya kakak cewe yang beda umurnya 3 tahun. Hubungan kami baik, kami pun sering main bersama hingga saling menjahili satu sama lain. Malam itu seperti biasanya aku tidur di kamarku dan seperti biasanya juga, kalau tidur aku menutupi seluruh tubuh mulai dari kepala sampai kaki dengan selimut. Namun tibatiba "BUK!" Ada yang memukul perutku.

"Ini pasti ulah kakak," pikirku, karena kadang kala aku melakukan hal serupa jadi saat itu ku abaikan saja lalu lanjut tidur. Tetapi beberapa saat kemudian, "BUK!" Perutku dipukul lagi. Pikirku pasti kakak masih berada dekat denganku jadi ku ulurkan tangan kiri dan langsung menggenggam tangannya tanpa membuka selimut yang menutup tubuhku.

Lalu segera ku katakan, "hentikan dong kak." Setelahnya dari kamar sebelah (kamar kakak), "dek, kamu kenapa?" Terdengar suara kakak. "Eh?!" Lalu segera ku lepas tangan yang sedang ku genggam. Saat itu, hanya ada kakak dan aku di rumah. Seketika itu juga, mataku tak mau menutup lagi.

"Kak, sini dong. Temani aku," panggilku setengah berteriak.

"Hah? Kamu kenapa?"

"Pokoknya kakak ke sini dulu, nanti baru aku ceritain."

Singkat kata, akhirnya kakak mau ke kamarku dan aku menceritakan apa yang baru saja terjadi. Namun responnya sangat menyebalkan. Dia menertawaiku sambil mengatakan kalau aku ini penakut. Ditengah tawa kakak, terdengar suara bel rumah berbunyi. Kami pun saling menatap, "siapa yang datang larut malam begini?" Pikirku. Kami lalu memutuskan untuk melihatnya bersama.

Aku terus menggenggam tangan kakak. Selalu ku pegang dan tak pernah lepaskan. Saat berjalan menuju pintu, mengintip lewat jendela, hingga kembali tak pernah sedetik pun ku lepaskan tangan itu. Saat kembali, "sebentar ya, kakak mau ke toilet," ucapnya sambil melepaskan tanganku. Ia lalu masuk ke toilet sementara aku terus menungguinya di depan pintu.

Satu menit, dua menit, lima menit, detik demi detik terasa begitu lama bagiku. Tak terdengar suara dari dalam. Keheningan itu membuatku panik. Segera ku pukul keras-keras pintu kamar mandi dan berteriak "Kakak! Kakak! Cepat dong!" Namun tak juga ada balasan dari dalam.

Terdengar suara pintu terbuka tak lama kemudian, tapi bukan pintu toilet namun justru pintu kamar kakak yang tak terlalu jauh dari toilet lah yang terbuka. "Dek, kamu tuh kenapa berisik banget sih? Padahal kakak pasang penutup telinga tapi masih kedengeran juga. Kamu tuh kenapa?" Ujarnya dengan muka bantal. Tanpa berpikir, ku buka pintu toilet (yang ternyata tak terkunci) dan tak mendapati siapapun di sana.

Sekuat dan secepat mungkin aku berlari menuju kamarku, menguncinya lalu membalut seluruh tubuh dengan selimut paling tebal yang ku punya sambil berharap malam penuh mimpi buruk ini segera berakhir.